Senin, 23 September 2013

TERNAK AYAM BROILER PEDAGING

Tingginya harga daging ayam saat ini mungkin akan menjadi sebuah pemacu minat anda untuk membuka usaha ternak ayam pedaging. Sebelum anda jauh melangkan membuka usaha ternak ayam broiler alangkah baiknya pahami terlebih dahulu sistem yang umum dijalankan oleh peternak. Selain itu sempatkan diri anda membaca analisa usaha ternak ayam pedaging dan juga resiko-resikonya. Saya lupa apakah di blog ini pernah saya butakan analisa usaha ternak ayam broiler atau belum, jadi jika tidak ditemukan mohon dikabari melalui form komentar agar saya bisa melampirkan analisa usaha tersebut.

Sistem usaha ternak ayam pedaging yang umum saat ini ada dua yakni:

  1. Sistem kemitraan, dalam kemitraan ayam broiler sama saja dengan kemitraan pada ternak ikan lele, dimana dalam kemitraan ada yang berindak sebagai Inti dan ada yang bertindak sebagai plasma. Inti dalam kemitraan ternak ayam pedaging harus dalam bentuk badan hukum yang jelas (perusahaan), apakah itu PT atau CV. Kewajiban perusahaan inti disini adalah; menyediakan bibit, menediakan pakan, menyediakan tenaga penyuluh, menyediakan obat-obatan dan menjamin pemasaran hasil panen ayam pedaging dari plasma. Namun demikian Inti juga memiliki banyak hak yang diatur jelas dalam sebuah MOU (kontrak kerjasama/ kesepakatan). Hak dan kewajiban plasma dan inti kemitraan ternak ayam broiler ini berbeda-beda pada setiap kemitraan, namun yang pasti hak dan kewajiban tersebut akan tercantum jelas pada kontrak kesepakatan. Plasma dalam kemitraan ayam pedaging adalah para peternak. Keuntungan utama budidaya ayam broiler  sebagai plasma (peternak) dengan sistem kemitraan ini adalah pemasaran hasil panen terjamin dan harganya sesuai dengan kontrak dengan perusahaan inti yang ditetapkan di awal kerjasama kemitraan.
  2. Sistem mandiri, dimana peternak ayam broiler membudidayakan ternaknya secara mandiri baik itu pendirian kandang, penyediaan DOC ayam broile, pakan, obat-obatan hingga pemasaran harus dijalankan sendiri oleh si peternak ayam pedaging tersebut. Keuntungan budidaya ayam pedaging secara mandiri salah satunya adalah harga jual ayam sesuai dengan harga pasaran, jadi ketika harga daging ayam sanagt tinggi seperti saat ini sudah bisa dipastikan peternak ayam pedaging mandiri akan memperoleh untung yang berlipat-lipat. Namun kerugiannya juga ada yakni pemasaran harus dilakukan sendiri oleh peternak sehingga hasil panen belum tentu terjual tepat pada waktu yang optimal, sehingga dapat menyebabkan kerugian besar akibat biaya pakan yang semakin hari semakin meningkat. Biaya perawatan (budidaya) ayam pedaging (broiler) yang paling besar adalah biaya pakan.

Dua hal tersebut diatas harus anda pertimbangkan sebelum menjalankan bisnis ayam pedaging, Jika anda kesulitan dalam akses pemasaran maka sebaiknya pilihlah mendirikan usaha ternak ayam pedaging dengan sistem kemitraan. Namun jika anda menguasai akses pemasaran dan memahami teknik budidaya ayam pedaging (broiler) maka sebaiknya dirikanlah peternakan ayam secara mandiri. Semoga artikel sederhana ini bermanfaat bagi anda yang ingin membuka usaha ternak ayam pedaging dan untuk cara ternak ayam pedaging dari hari kehari mungkin belum sempat saya samapikan saat ini namun dilain kesempatan mudahh-mudahan bisa dipublikasikan di blog ini.

MENARIK LABA DARI TERNAK SAPI RUMAHAN


Populasi penduduk di Indonesia terbesar keempat di dunia setelah China, India dan Amerika Serikat. Jumlah penduduk yang tinggi diikuti pula dengan meningkatnya konsumsi daging sapi di tanah air terutama ketika hari raya tiba. Untuk memenuhi permintaan pasar yang kian melonjak, usaha peternakan sapi skala rumah tangga patut untuk dikembangkan. Upaya yang dinilai mampu memberi kontribusi berarti bagi roda perekonomian bangsa itu juga disinyalir bermanfaat bagi perwujudan swasembada daging sapi di tanah air.


Program usaha ternak skala rumahan terbukti membawa perubahan yang signifikan terutama bagi peternak. Program ternak rumah tangga yang ada di area Sumatra Barat (Sumbar) misalnya. Di sana, bisnis ternak sapi potong skala rumah tangga telah marak digerakkan. Dengan cara konvensional, peternak sapi potong kelas rumahan itu mampu mengembangkan usahanya dengan keuntungan yang memadai.


Sistem budi daya ternak sapi berskala rumah tangga ini sudah lama diterapkan di kota Sawahlunto, Sumbar, tepatnya sejak tahun 2003 lalu. Menurut pandangan Pemerintah Kota (pemkot) Sawahlunto, penerapan sistem ini tak hanya mendorong laju pertumbuhan produksi sapi potong dalam negeri tapi juga memberi pendapatan hingga berlipat ganda kepada peternak kecil sebagai mata pencariannya.


Usaha ternak sapi potong kelas rumahan sangat ekonomis, baik dari sisi biaya pemeliharaan maupun biaya pembuatan kandang. Karena skalanya kecil, pembuatan kandangnya pun biasanya berbentuk tunggal. Meski demikian, untuk memeroleh kualitas sapi potong yang bagus, ukuran kandang usaha sapi potong rumah tangga tak jauh berbeda dengan ukuran kandang untuk pembudidayaan sapi komersiil dalam skala besar. Begitu pula untuk masalah pakan ternak dan proses pemeliharaan sapi potong.


Para peternak sapi potong kelas rumahan diberi pelatihan khusus untuk mengikuti standard pemeliharaan sapi potong skala besar. Pelatihan ini meliputi knowledge transfer kepada peternak dalam memilih bibit sapi potong. Misalnya dari segi bentuk badan, bibit tipe sapi potong umumnya mempunyai bentuk badan persegi panjang atau berbentuk bulat silinder. Sementara badan bagian muka, tengah dan belakang tumbuh sama kuat dan garis badan bagian atas dan bawah sejajar. Dengan demikian, kualitas daging sapi potong yang dihasilkannya sama dan layak untuk dikonsumsi dengan sapi potong dari peternak kelas besar.


Pemberian kepercayaan dan pelatihan kepada peternak skala rumah tangga yang dijalankan di kawasan Sawahlunto ini membuahkan hasil yang patut dibanggakan. Dalam tempo waktu enam bulan, peternak sapi potong kelas rumahan bisa memeroleh keuntungan sekitar Rp4 juta sampai Rp5 juta per satu ekor sapi potong. Padahal, dalam satu rumah tangga, sapi potong yang dibudidayakan rata-rata 2 hingga 3 ekor. Kalau harga bibit satu ekor antara Rp6 juta – Rp7 juta, sementara setelah dipelihara selama 6 bulan, harga sapi di pasaran meningkat antara Rp10 – Rp11 juta, keuntungan peternak bisa mencapai Rp4 juta – Rp5 juta per ekor. Laba ini pun bisa berlipat ganda saat hari raya keagamaan tiba, seperti Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha dan Natal.


Nah, itu baru keuntungan yang didapat jika dilihat dari sisi profit peternak. Bila dipandang dari sisi jumlah produksi ternak, katakanlah ada 1.000 peternak skala rumah tangga dalam satu kawasan dengan total ternak sapi potong sebanyak 3 ekor. Dalam waktu enam bulan sesudah melewati masa pemeliharaan akan tersedia 3.000 ekor sapi potong lokal yang siap untuk dikonsumsi.

'Manarik Laba Dari Ternak Sapi Rumahan':

Senin, 03 Juni 2013

BAKSO AYAM



Bahan :
§  250 gram daging   ayam/sapi/ikan
§  25 gram sagu aren ( 10 % dari berat daging)
§  1 sendok makan bawang putih (goreng)
§  2 sendok makan bawang merah (goreng)
§  ½  sendok teh merica halus
§  1 sendok teh gula putih
§  ½   sendok teh penyedap rasa
§  1 ujung sendok  teh polifosfat (0,3 % - 0,5 % dari berat daging)
§  1 sendok makan Garam ( 3 % dari berat daging)
§  75 gram Es batu (30 % dari berat daging)

Alat  :
§  Gilingan daging, Blender, Kompor, panci, dll

Cara membuatnya  :
§  Giling/cincang daging 
§  Tambahkan garam, folifosfat dan  es batu, kemudian blender hingga teraduk dengan rata (kira-kira 1 menit)
§  Tambahkan bahan lainnya ( sagu, bawang putih, bawang merah, merica, gula, penyedap rasa), kemudian blender kembali hingga halus
§  Cetak adonan dan masukkan ke dalam air panas (kira-kira 60º- 70 º C selama 5 menit)
§  Jika bakso telah terapung angkat dan tiriskan
§  Rebus baso hingga matang (kira-kira 5 menit) dan bakso siap dikemas

Senin, 04 Februari 2013

PEMIJAHAN KATAK LEMBU






BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN KARANGPLOSO

INSTALASI PENELITIAN DAN PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN WONOCOLO1997

PENDAHULUAN

Katak lembu atau bull frog (Rana Catesbiana) merupakan salah satu komoditi

andalan perikanan untuk tujuan ekspor. Katak ini sudah terbukti mempunyai

beberapa kelebihan diantaranya lebih jinak, cepat menyesuaikan lingkungan

buatan dan ukurannya lebih besar daripada katak lokal. Budidayanya telah

berkembang dengan baik di Jawa Timur.

Namun dalam perkembangan selanjutnya timbul permasalahan yaitu belum

adanya keseimbangan antara produksi benih (kecebong dan percil) dengan

usaha pembesaran. Akibatnya harga benih naik diatas harga normal sehingga

kurang menguntungkan bagi perkembangan usaha pembesaran karena adanya

kenaikan biaya produksi. Untuk itu perlu upaya meningkatkan produksi benih

melalui pengembangan dan intensifikasi pembenihan, agar benih tersedia dalam

jumlah yang cukup, tepat waktu dan tepat mutu.

TEKNIK PEMIJAHAN

Pemijahan katak lembu ada 2 cara yaitu pemilahan secara tradisional dan

pemilahan secara intensif.

PEMIJAHAN TRADISIONAL

Cara ini dianjurkan bagi peternak pemula yang belum pengalaman pemijahan

dilakukan di kolam plesteran berbentuk empat persegi panjang dengan luas

antara 20 - 50 m2 dan tingginya kurang lebih 1 m. Bagian tengah kolam berupa

tanah atau daratan ,bentuknya seperti pematang yang di sisinya ditanami rumput

dan tales. Agar lebih teduh dan alami, diatas pematang sebaiknya diberi atap atau

peneduh dari karton bekas atau genteng dan dipasang alat penyemprot air taman

untuk membuat hujan buatan. Manfaat dari pematang ini sebagai tempat untuk

istirahat dan arena percumbuan antara induk jantan dan betina. Sedangkan

bagian kolam yang lain diisi air sedalam kurang lebih 30 cm dan diberi tanaman

enceng gondok.

Pemijahan tradisional merupakan cara memproduksi benih yang bersifat masal

karena dalam satu unit kolam pemijahan diisi banyak pasangan induk jantan dan

betina. Sebagai patokan, tiap meter persegi kolam pemijahan tradisional dapat

diisi 1-2 pasang induk jantan dan betina.

PEMIJAHAN INTENSIF

Cara ini dianjurkan bagi peternak yang sudah berpengalaman dan trampil.

Pemijahan dilakukan di kolam plesteran berbentuk empat persegi panjang dengan

ukuran 1,5 x 2 m dan tinggi sekitar 80 cm. Air kolam berasal dari sumur atau

sumber lain, yang dialirkan ke unit-unit kolam melalui pipa paralon ukuran 1 dim

yang dilubangi, sehingga keluarnya air dari pipa seperti pancuran. Dasar kolam

dibuat agak miring sedikit agar air yang masuk ke kolam melalui pipa paralon bisa

langsung ke luar (terbuang).

Kolam pemijahan intensif biasanya disebut kolam pasangan karena setiap unit

kolam diisi induk jantan dan betina dengan perbandingan 1 jantan : 1 betina atau

2 jantan : 1 betina, Menurut pengalaman perbandingan jantan dan betina 2 : 1

proses perkawinan lebih cepat karena adanya persaingan induk jantan untuk

mendapatkan sang betina.

PERSYARATAN INDUK DAN PROSES PEMIJAHAN

Induk dipilih yang sehat dan. tidak cacat, beratnya antara 300 - 500 gram per

ekor, umur 18 bulan untuk betina dan 12 bulan untuk pejantan. Terjadinya

perkawinan biasanya pagi hari di tandai dengan katak jantan berada diatas katak

betina. Pada waktu perkawinan berlangsung jangan sampai terganggu, sebab bila

terganggu katak jantan akan melepas katak betina dan untuk terjadinya

perkawinan berikutnya biasanya memerlukan waktu yang agak lama.

Setiap memijah, 1 ekor induk dapat menghasilkan telur antara 5.000 -20.000 butir

tergantung dari kualitas induk, dan berlangsung sebanyak 3 kali per tahun.

PEMELIHARAAN LARVA DAN KECEBONG

Pada pembenihan intensif, induk yang sudah bertelur dipindah ke kolam yang

lain, dan telur tetap di kolam pemijahan untuk dipelihara sampai menjadi

larva/kecebong selama 1 bulan. Sedangkan pembenihan tradisional induk tetap

berada di kolam, dan telur diambil dari kolam pemijahan untuk dipindahkan ke

kolam pemeliharaan larva yang bentuknya seperti kolam pemijahan intensif.

Kecebong yang telah berumur 1 bulan di kolam pemijahan atau pemeliharaan

larva, dipindah ke kolam kecebong sampai menjadi percil. Ukuran kolamnya 10 -

20 m2 atau lebih, tergantung dari luas lahan yang tersedia. Kolam ini berisi air

sedalam 50 cm dengan padat penebaran 1.000 - 1.500 ekor per meter persegi.

PAKAN

Pakan yang diberikan untuk induk berupa pakan buatan (pelet) terapung dengan

ukuran 8 mm, sedangkan kecebong dan percil juga diberikan pakan buatan tetapi

ukurannya lebih kecil.

PEMASARAN HASIL

Sesuai dengan perkembangan pasar yang ada benih katak sudah dapat dipanen

dan laku dijual mulai ukuran kecebong, Keadaan ini sangat menguntungkan para

pembenih karena perputaran modal lebih cepat dan keuntungan yang diperoleh

cukup tinggi.

Oleh: - Anang Muhadyanto

Diproduksi : IPPTP Wonocolo

Sumber Dana : APBD Tk. I Jatim Tahun Anggaran 1997/1

Jumat, 18 Januari 2013

ABON SAPI




Bahan :
  • Daging sapi 500 gram
  • Gula merah 100gram
  • Bawang merah  10 siung
  • Bawang putih  10 siung
  • Ketumbar 2 sendok makan
  • Sereh  5 batang dan daun salam 5 lembar
  • Garam 30 gram
  • Laos/lengkuas  sebesar ibu jari
  • Santan dari 1 butir kelapa
Alat :
  • Panci
  • Ulekan/penumbuk daging
  • Penggorengan
  • Pengepres atau kain saringan

Cara Mengerjakan :
-          Daging bersama sereh dan daun salam direbus hingga empuk, setelah empuk dipukul-pukul dan disuir-suir
-          Campurkan bumbu yang telah dihaluskan ke dalam daging yang telah disuir-suir
-          Tambahkan santan dan digodok dengan api kecil hingga kering
-          Daging ditumbuk sampai halus seperti sabut , kemudian digoreng dengan minyak panas sampai kering, bila sudah matang, abon dipres dengan alat sampai minyak habis.
-          Selanjutnya abon di oven pada suhu 80º C hingga kering
-          Masukkan ke dalam plastik tranparan dan beri label.

Jumat, 09 Desember 2011

AMONISASI JERAMI PADI UNTUK PAKAN


1. KELUARAN
Jerami padi dengan kecernaan lebih baik
2. BAHAN
1) Jerami padi
2) Urea
3) Molases
3. ALAT
1) Timbangan
2) Plastik
3) Ember
4) Skop
5) Cangkul
6) Sendok
7) Alat penyiram
4. PEDOMAN TEKNIS
1) Perlakuan amonisi jerami padi :
- 4 kg urea
- 100 kg bahan kering jerami padi
2) Cara perlakuan :
- Urea (4 kg) dicampur dengan air 100 liter
- Kemudian jerami padi disiram air larutan urea hingga merata lapis perlapis
- Kemudian tutup dengan plastik, hingga kedap udara
- Diamkan selama 1-2 minggu untuk proses amonisi
3) Proses amonisi dapat dilakukan di dalam tempat khusus misalnya drum
bekas atau di tempat lainnya, yang ditutup dengan plastik kedap udara.
4) Proses amonisi bila sempurna ditandai tekstur jerami relatif lebih mudah
putus, berwarna kuning tua atau coklat dan bau monia. Untuk mengurangi
bau amonia, jerami harus dianginkan selama 1-2 jam sebelum diberikan
pada ternak.

Selasa, 13 September 2011

Mengetahui Sifat dan Karakter Kelinci






Sifat dan karakter kelinci dapat dikenali semua dari gerakan hidung, telinga, mata, pola makan, cara menggali, meloncat, cara bersuara, suaranya, membuat tanda, dan komunikasi visualnya. Gambaran singkat sifat dan karakter kelinci yang hidup di alam bebas sebagai berikut :
1. Gerakan hidung yang dilakukan untuk mendeteksi adanya makhluk lain disekitarnya. Caranya adalah menggerak-gerakkan hidungnya dan menghirup udara ke arah atas. Dalam keadaan tidur pun kelinci melakukan gerakan ini agar terhindar dari bahaya.
2. Gerakan telinga. Ada dua alasan kelinci menggerakkan telinganya. Pertama, untuk mengikuti adanya gelombang suara yang dikumpulkan dan mendeteksi bahaya disekitarnya. Kedua, sebagai pengatur suhu tubuh karena cuaca yang panas atau dingin. Hanya kelinci jenis lop yang tidak bisa melakukan gerakan telinga ini secara sempurna.
3. Mata yang menonjol. Posisi dan ukuran kedua matanya terlihat. Sebenarnya kelinci tidak bisa melihat langsung ke arah objek di depannya, tetapi indera penglihatannya ini bekerja sama dengan indera penciuman dan pendengarannya. Melalui kerja sama ini, kelinci bisa mendeteksi bahaya yang datang dengan akurat.
4. Pola makan. Di luar kandang, dalam keadaan tidur dan makan pun, kelinci selalu siaga mendeteksi adanya bahaya yang mengancam dirinya. Jadi, saat makan, kita bisa melihat kelinci maenaikkan kepalanya berulang kali dan melihat sekitarnya. Anne McBride, seorang pengamat tingkah laku binatang, menggambarkan tiga pola makan kelinci. Pertama, pola kasual, yakni kelinci biasa makan di daerah yang aman dan dalam keadaan rileks, seperti dikandang dalam tanah. Kedua, pola lahap, yakni kelinci makan dengan cara secepat mungkin. Ini menandakan bahwa bahaya ada disekitarnya atau ada cuaca buruk. Pola ketiga adalah pola normal, yakni kelinci bisa makan tanpa gangguanapa pun dan dimana pun. Jadi tidak hanya makan di dalam kandangnya.
5. Kandang didalam tanah sebagai tempat berlindung, tidur, dan berkembang biak. Biasanya, kelinci jantan sering membuang kotorannya disekitar kandang, ini untuk memberikan tanda bahwa daerah sekitar kandang merupakan wilayah teritorialnya.
6. Meloncat biasanya dilakukan kelinci saat berlari menghindari predator. Di luar negeri, ada semacam kursus yang membagi kelinci dalam dua kategori, yakni kelinci ketangkasan dan kelinci lompatan. Jika dilatih, kelinci bisda mengikuti perintah manusia seperti anjing atau kucing. Saat melompat, ternyata kelinci bisa berdiri tegak di udara atau bahkan melompat sambil memutar badannya dengan cepat.
7. Vokal. Kelinci jarang sekali menggerakkan giginya untuk menimbulkan suara. Namun, kadang-kadang kelinci bersuara mendengaung, “klik” pelan, atau mengeratkan giginya. Suara yang agresif muncul saat mendengkur dan menggeram. Jika merasa sakit atau katakutan, kelinci akan menggerakkan giginya dengan suara yang nyaring seperti berteriak. Suara ini juga berguna untuk mengejutkan predator yang memburunya dan memberikan tanda kepada teman-temannya bahwa ada bahaya disekitarnya.
8. Membuat tanda. Kelinci biasa menandai wilayah teritorialnya menggunakan kotoran dan urinenya.
9. Komunikasi visual. McBride membagi tiga pola komunikasivisual kelinci, yakni kelinci yang tenang, kelinci submisif, dan kelinci yang ketakutan. Kelinci yang tenang biasanya akan bertindak tenang dan berbaring. Ia terlihat santai seolah-olah tidak ada gangguan sama sekali. Kelinci submisif biasanya akan menangkup atau berbaring disuatu tempat, tetapi matanya terlihat tegang. Sementara itu, kelinci yang ketakutan matanya seperti melotot, kepala bergerak kasegala arah, dan telinga diturunkan agar tidak terlihat oleh predator. Jika bertemu dengan benda atau hal yang tidak disukai, kelinci akan menggeleng-gelengkan kepalanya {bedakan dengan kelinci yang terus-menerus menggelengkan kepalanya, itu berarti kelinci sedang sakit!} kelinci berlari, melompat, dan menjatuhkan badannya sekuat tenaga hingga menimbulkan suara untuk memberikan tanda kepada teman-temannya bahwa ada bahaya yang mengancam dan meminta mereka cepat berlindung.