BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN KARANGPLOSO
INSTALASI PENELITIAN DAN PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN WONOCOLO1997
PENDAHULUAN
Katak lembu atau bull frog (Rana Catesbiana) merupakan salah satu komoditi
andalan perikanan untuk tujuan ekspor. Katak ini sudah terbukti mempunyai
beberapa kelebihan diantaranya lebih jinak, cepat menyesuaikan lingkungan
buatan dan ukurannya lebih besar daripada katak lokal. Budidayanya telah
berkembang dengan baik di Jawa Timur.
Namun dalam perkembangan selanjutnya timbul permasalahan yaitu belum
adanya keseimbangan antara produksi benih (kecebong dan percil) dengan
usaha pembesaran. Akibatnya harga benih naik diatas harga normal sehingga
kurang menguntungkan bagi perkembangan usaha pembesaran karena adanya
kenaikan biaya produksi. Untuk itu perlu upaya meningkatkan produksi benih
melalui pengembangan dan intensifikasi pembenihan, agar benih tersedia dalam
jumlah yang cukup, tepat waktu dan tepat mutu.
TEKNIK PEMIJAHAN
Pemijahan katak lembu ada 2 cara yaitu pemilahan secara tradisional dan
pemilahan secara intensif.
PEMIJAHAN TRADISIONAL
Cara ini dianjurkan bagi peternak pemula yang belum pengalaman pemijahan
dilakukan di kolam plesteran berbentuk empat persegi panjang dengan luas
antara 20 - 50 m2 dan tingginya kurang lebih 1 m. Bagian tengah kolam berupa
tanah atau daratan ,bentuknya seperti pematang yang di sisinya ditanami rumput
dan tales. Agar lebih teduh dan alami, diatas pematang sebaiknya diberi atap atau
peneduh dari karton bekas atau genteng dan dipasang alat penyemprot air taman
untuk membuat hujan buatan. Manfaat dari pematang ini sebagai tempat untuk
istirahat dan arena percumbuan antara induk jantan dan betina. Sedangkan
bagian kolam yang lain diisi air sedalam kurang lebih 30 cm dan diberi tanaman
enceng gondok.
Pemijahan tradisional merupakan cara memproduksi benih yang bersifat masal
karena dalam satu unit kolam pemijahan diisi banyak pasangan induk jantan dan
betina. Sebagai patokan, tiap meter persegi kolam pemijahan tradisional dapat
diisi 1-2 pasang induk jantan dan betina.
PEMIJAHAN INTENSIF
Cara ini dianjurkan bagi peternak yang sudah berpengalaman dan trampil.
Pemijahan dilakukan di kolam plesteran berbentuk empat persegi panjang dengan
ukuran 1,5 x 2 m dan tinggi sekitar 80 cm. Air kolam berasal dari sumur atau
sumber lain, yang dialirkan ke unit-unit kolam melalui pipa paralon ukuran 1 dim
yang dilubangi, sehingga keluarnya air dari pipa seperti pancuran. Dasar kolam
dibuat agak miring sedikit agar air yang masuk ke kolam melalui pipa paralon bisa
langsung ke luar (terbuang).
Kolam pemijahan intensif biasanya disebut kolam pasangan karena setiap unit
kolam diisi induk jantan dan betina dengan perbandingan 1 jantan : 1 betina atau
2 jantan : 1 betina, Menurut pengalaman perbandingan jantan dan betina 2 : 1
proses perkawinan lebih cepat karena adanya persaingan induk jantan untuk
mendapatkan sang betina.
PERSYARATAN INDUK DAN PROSES PEMIJAHAN
Induk dipilih yang sehat dan. tidak cacat, beratnya antara 300 - 500 gram per
ekor, umur 18 bulan untuk betina dan 12 bulan untuk pejantan. Terjadinya
perkawinan biasanya pagi hari di tandai dengan katak jantan berada diatas katak
betina. Pada waktu perkawinan berlangsung jangan sampai terganggu, sebab bila
terganggu katak jantan akan melepas katak betina dan untuk terjadinya
perkawinan berikutnya biasanya memerlukan waktu yang agak lama.
Setiap memijah, 1 ekor induk dapat menghasilkan telur antara 5.000 -20.000 butir
tergantung dari kualitas induk, dan berlangsung sebanyak 3 kali per tahun.
PEMELIHARAAN LARVA DAN KECEBONG
Pada pembenihan intensif, induk yang sudah bertelur dipindah ke kolam yang
lain, dan telur tetap di kolam pemijahan untuk dipelihara sampai menjadi
larva/kecebong selama 1 bulan. Sedangkan pembenihan tradisional induk tetap
berada di kolam, dan telur diambil dari kolam pemijahan untuk dipindahkan ke
kolam pemeliharaan larva yang bentuknya seperti kolam pemijahan intensif.
Kecebong yang telah berumur 1 bulan di kolam pemijahan atau pemeliharaan
larva, dipindah ke kolam kecebong sampai menjadi percil. Ukuran kolamnya 10 -
20 m2 atau lebih, tergantung dari luas lahan yang tersedia. Kolam ini berisi air
sedalam 50 cm dengan padat penebaran 1.000 - 1.500 ekor per meter persegi.
PAKAN
Pakan yang diberikan untuk induk berupa pakan buatan (pelet) terapung dengan
ukuran 8 mm, sedangkan kecebong dan percil juga diberikan pakan buatan tetapi
ukurannya lebih kecil.
PEMASARAN HASIL
Sesuai dengan perkembangan pasar yang ada benih katak sudah dapat dipanen
dan laku dijual mulai ukuran kecebong, Keadaan ini sangat menguntungkan para
pembenih karena perputaran modal lebih cepat dan keuntungan yang diperoleh
cukup tinggi.
Oleh: - Anang Muhadyanto
Diproduksi : IPPTP Wonocolo
Sumber Dana : APBD Tk. I Jatim Tahun Anggaran 1997/1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar