Senin, 04 Februari 2013

PEMIJAHAN KATAK LEMBU






BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN KARANGPLOSO

INSTALASI PENELITIAN DAN PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN WONOCOLO1997

PENDAHULUAN

Katak lembu atau bull frog (Rana Catesbiana) merupakan salah satu komoditi

andalan perikanan untuk tujuan ekspor. Katak ini sudah terbukti mempunyai

beberapa kelebihan diantaranya lebih jinak, cepat menyesuaikan lingkungan

buatan dan ukurannya lebih besar daripada katak lokal. Budidayanya telah

berkembang dengan baik di Jawa Timur.

Namun dalam perkembangan selanjutnya timbul permasalahan yaitu belum

adanya keseimbangan antara produksi benih (kecebong dan percil) dengan

usaha pembesaran. Akibatnya harga benih naik diatas harga normal sehingga

kurang menguntungkan bagi perkembangan usaha pembesaran karena adanya

kenaikan biaya produksi. Untuk itu perlu upaya meningkatkan produksi benih

melalui pengembangan dan intensifikasi pembenihan, agar benih tersedia dalam

jumlah yang cukup, tepat waktu dan tepat mutu.

TEKNIK PEMIJAHAN

Pemijahan katak lembu ada 2 cara yaitu pemilahan secara tradisional dan

pemilahan secara intensif.

PEMIJAHAN TRADISIONAL

Cara ini dianjurkan bagi peternak pemula yang belum pengalaman pemijahan

dilakukan di kolam plesteran berbentuk empat persegi panjang dengan luas

antara 20 - 50 m2 dan tingginya kurang lebih 1 m. Bagian tengah kolam berupa

tanah atau daratan ,bentuknya seperti pematang yang di sisinya ditanami rumput

dan tales. Agar lebih teduh dan alami, diatas pematang sebaiknya diberi atap atau

peneduh dari karton bekas atau genteng dan dipasang alat penyemprot air taman

untuk membuat hujan buatan. Manfaat dari pematang ini sebagai tempat untuk

istirahat dan arena percumbuan antara induk jantan dan betina. Sedangkan

bagian kolam yang lain diisi air sedalam kurang lebih 30 cm dan diberi tanaman

enceng gondok.

Pemijahan tradisional merupakan cara memproduksi benih yang bersifat masal

karena dalam satu unit kolam pemijahan diisi banyak pasangan induk jantan dan

betina. Sebagai patokan, tiap meter persegi kolam pemijahan tradisional dapat

diisi 1-2 pasang induk jantan dan betina.

PEMIJAHAN INTENSIF

Cara ini dianjurkan bagi peternak yang sudah berpengalaman dan trampil.

Pemijahan dilakukan di kolam plesteran berbentuk empat persegi panjang dengan

ukuran 1,5 x 2 m dan tinggi sekitar 80 cm. Air kolam berasal dari sumur atau

sumber lain, yang dialirkan ke unit-unit kolam melalui pipa paralon ukuran 1 dim

yang dilubangi, sehingga keluarnya air dari pipa seperti pancuran. Dasar kolam

dibuat agak miring sedikit agar air yang masuk ke kolam melalui pipa paralon bisa

langsung ke luar (terbuang).

Kolam pemijahan intensif biasanya disebut kolam pasangan karena setiap unit

kolam diisi induk jantan dan betina dengan perbandingan 1 jantan : 1 betina atau

2 jantan : 1 betina, Menurut pengalaman perbandingan jantan dan betina 2 : 1

proses perkawinan lebih cepat karena adanya persaingan induk jantan untuk

mendapatkan sang betina.

PERSYARATAN INDUK DAN PROSES PEMIJAHAN

Induk dipilih yang sehat dan. tidak cacat, beratnya antara 300 - 500 gram per

ekor, umur 18 bulan untuk betina dan 12 bulan untuk pejantan. Terjadinya

perkawinan biasanya pagi hari di tandai dengan katak jantan berada diatas katak

betina. Pada waktu perkawinan berlangsung jangan sampai terganggu, sebab bila

terganggu katak jantan akan melepas katak betina dan untuk terjadinya

perkawinan berikutnya biasanya memerlukan waktu yang agak lama.

Setiap memijah, 1 ekor induk dapat menghasilkan telur antara 5.000 -20.000 butir

tergantung dari kualitas induk, dan berlangsung sebanyak 3 kali per tahun.

PEMELIHARAAN LARVA DAN KECEBONG

Pada pembenihan intensif, induk yang sudah bertelur dipindah ke kolam yang

lain, dan telur tetap di kolam pemijahan untuk dipelihara sampai menjadi

larva/kecebong selama 1 bulan. Sedangkan pembenihan tradisional induk tetap

berada di kolam, dan telur diambil dari kolam pemijahan untuk dipindahkan ke

kolam pemeliharaan larva yang bentuknya seperti kolam pemijahan intensif.

Kecebong yang telah berumur 1 bulan di kolam pemijahan atau pemeliharaan

larva, dipindah ke kolam kecebong sampai menjadi percil. Ukuran kolamnya 10 -

20 m2 atau lebih, tergantung dari luas lahan yang tersedia. Kolam ini berisi air

sedalam 50 cm dengan padat penebaran 1.000 - 1.500 ekor per meter persegi.

PAKAN

Pakan yang diberikan untuk induk berupa pakan buatan (pelet) terapung dengan

ukuran 8 mm, sedangkan kecebong dan percil juga diberikan pakan buatan tetapi

ukurannya lebih kecil.

PEMASARAN HASIL

Sesuai dengan perkembangan pasar yang ada benih katak sudah dapat dipanen

dan laku dijual mulai ukuran kecebong, Keadaan ini sangat menguntungkan para

pembenih karena perputaran modal lebih cepat dan keuntungan yang diperoleh

cukup tinggi.

Oleh: - Anang Muhadyanto

Diproduksi : IPPTP Wonocolo

Sumber Dana : APBD Tk. I Jatim Tahun Anggaran 1997/1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar